Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keunggulan dan Efektivitas Kurikulum Merdeka

Kurang Lebih dari dua tahun pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan dunia. Dalam kurun waktu tersebut, pembelajaran digelar melalui daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ). Proses belajar mengajar secara tatap muka yang sangat terbatas di masa pandemi, menimbulkan ancaman terjadinya learning lost. Yaitu hilangnya kemampuan serta pengalaman belajar pada peserta didik.

Efek jauh daripada itu juga mengalami krisis pembelajaran atau learning crisis. Tidak sedikit anak kesulitan memahami bacaan yang sederhana. Ada juga yang kesulitan menerapkan konsep matematika dasar.


Saat ini, pandemi sudah mulai mereda. Dan pembelajaran tatap muka (PTM) secara penuh atau 100 persen sudah diterpakan di sekolah. Selain PTM penuh, sekolah juga sudah memulai menerapkan kurikulum Merdeka Belajar. Merupakan terobosan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi ( Kemendik budristek) untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) unggul.

Hal ini disebabkan oleh PJJ (Pelajaran Jarak Jauh) yang berkepanjangan. Menyebabkan pembelajaran menjadi kurang efektif. Terlebih kebanyakan kemampuan literasi digital tenaga pendidik ketika PJJ masih rendah. Mulai dari kemampuan mendapatkan informasi, mengelola informasi, serta menyampaikannya.

Dalam dunia pendidikan, perubahan bisa dilihat dari berbagai cara, salah satunya Dengan Kurikulum Merdeka yang menggunakan konsep Merdeka Belajar, diharapkan membantu pemulihan learning lost dan learning crisis akibat pandemi. 

Dimana Struktur Kurikulum Merdeka yang lebih fleksibel, menerapkan pembelajaran berbasis proyek untuk mengembangkan soft skills dan Profil Pelajar Pancasila. Dan guru juga diberi kebebasan memilih perangkat mengajar. Sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing masing siswa.

Menurut Menurut Prof. Dr. H. Sunaryo tadinata, M.Pd., guru besar Univertas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, pendidikan merupakan proses membawa manusia dari kondisi apa adanya, kepada kondisi bagaimana seharusnya, dengan cara transformasi yang menggabungkan visi akademik serta visi pengembangan Inovasi yang terjadi di dalamnya. Baik dalam sistem pendidikan, pelaksanaan pembelajaran, media yang digunakan, dan perubahan kurikulum (Ayi Suherman, 2010).

Ada beberapa keunggulan Kurikulum Merdeka Belajar. Di antaranya :

  • lebih fleksibel dan lebih menfokuskan pada materi-materi yang esensial. 
  • Kebebasan pengembangan karakter dan peningkatan kompetensi siswa. 
  • Guru juga diberi kesempatan lebih mendalami materi pembelajaran, dan tidak terlalu cepat pindah ke materi berikutnya. Sehingga peserta didik dapat memahami konsep materi dengan baik.

Sistem peminatan di jenjang sekolah menengah atas (SMA) kini ditiadakan. Peserta didik diberi kesempatan memilih mata pelajaran (mapel) yang sesuai minat dan bakatnya. Selain itu, guru juga diberi kebebasan memilih capaian pembelajaran. Serta diberi kewenangan mengembangkan kurikulum sesuai karakter sekolah masing-masing.

Dengan Kurikulum Merdeka, proses pembelajaran dilaksanakan dalam berbagai kegiatan berbasis proyek di dalam kelas. Sehingga peserta didik mendapatkan keterampilan yang akan bermanfaat ketika lulus sekolah. Serta akan memberikan pengalaman tersendiri bagi peserta didik dalam memahami konsep pembelajaran di sekolah.

Penghapusan kriteria ketuntasan minimal (KKM) di Kurikulum Merdeka, juga memberikan dampak positif. Guru lebih leluasa dalam menentukan ketercapian pembelajaran kepada peserta didik. Sehingga guru tidak akan lagi dikejar kejar target mencapai nilai KKM tertentu. 

Tulisan Oleh ROKHMAD ASTIKA TRIPRASETIA, S.Pd.
*) Guru Teknik Listrik SMK Negeri 2 Sragen

to close